Sabtu, 19 April 2014

Menanti Cinta - Adam Aksara

Cerita yang inspiratif, cerkas dan idenya segar.
Kisah anak manusia penunggang kursi roda mencari cinta. Menggugah sekaligus mengelitik pembaca dengan alur yang runut hingga pilihan ending yang mendua: happy and sad ending. Dan ini benar-benar baru.
Dalam 221 halaman pembaca diajak mengikuti tarikan roda kursi kehidupan Alex, yang meskipun memiliki kelemahan berupa cacat fisik karena polio, dia tetap manusia yang mendapat jatah anugrah luar biasa dari yang Kuasa. Kreatifitas, harga diri dan cinta membuat roda kehidupannya terus berputar, entah di jalan terjal, entah lancar.
Sosok Claire yang dipertemukan dalam perpustakaan membuatnya sadar, ia berhak atas cinta meskipun masih malu-malu, diam-diam namun cinta itu hadir mengintip, lalu menitip. Cinta ada karena terbiasa. 

Saya teringat film favorit sepanjang masa hidupku, ”Ada Apa Dengan Cinta?” dan pusat semesta film itu sebenarnya buku dan perpustakaan. Rangga menemukan cintanya pada buku di perpustakaan. Dua sejoli yang bercinta menemukan Rangga yang saking cintanya pada membaca buku membuatnya marah pada kegaduhan. Dan akhirnya Cinta menemukan Rangga yang dicarinya di perpustakaan karena puisi. Dan inilah lakon hidup milik siapa saja. Alex juga demikian. Untuk Claire, dia merasa ringan melakukan apa saja atas nama cinta.
Bahasa yang digunakan Adam Aksara juga mudah dipahami. Tidak serius, juga tidak lebay. Itu membuktikan penulis sangat piawai meramu cerita, dengan rangkaian kata yang pendek bersambung. Rancak juga membumbung hasrat pembaca tak terbendung dari halaman pertama hingga kalimat penghujung. Inilah cinta agung! Ada hasrat, ada ketakutan, ada kelam, ada rahasia, namun juga percaya? Percayakah mereka pada takdir yang menyatukan cinta mereka? Apakah mereka lebih takut pada masa lalu atau mencoba berdamai dengan masa depan? Silahkan temukan jawabannya di Novel Menanti Cinta, yang di tulis Adam Aksara dan diterbitkan oleh Mozaik Indie Publisher. Apakah Alex dan Claire yang menanti cinta? Atau justeru cinta yang menanti mereka?
Selanjutnya, benar memang cinta tak pernah membebani. Ia meringankan yang memilikinya. Dan berbahagialah mereka yang menemukan cinta. Bersabarlah mereka yang menanti cinta. Dan bersemangatlah mereka yang kehilangan cinta. Sebenarnya cinta tak pernah hadir. Cinta tak pernah pergi. Cinta tak pernah patah. Cinta selalu ada dan setia di hati kita.
Meski ada satu-dua deskripsi cerita yang uneasy to understand, ada satu-dua logika yang berbeda, tapi ini sangat manusiawi. Tidak ada yang sempurna karena sempurna hanya milik Allah dan Andra and Backbone. So, saya beri nilai 4.3/5.0 dan it’s worth buying and reading book of this semester!