Rabu, 10 Oktober 2012

A Cup Of Tea For Writer

Judul : A Cup Of Tea For Writer
Penulis : Triani Retno A, Herlina P. Dewi, dkk
Penerbit : Stiletto Book
Cetakan : I, September 2012
Tebal : 195 hlm

Menjadi penulis seolah profesi yang keren dan menjanjikan saat ini. J.K. Rowling, Andrea Hirata, Habiburrahman El Shirazy dan beberapa nama penulis terkenal telah sukses meraup rupiah lewat untaian kata-kata. Maka, tak heran selalu muncul nama-nama baru dalam dunia kepenulisan. Namun, beberapa dari mereka lupa bahwa jalan menuju sukses pasti butuh perjuangan keras. Hanya yang mempunyai tekad dan semangat kuat yang mampu bertahan.

A Cup Of Tea For Writer adalah satu dari seri A Cup Of Tea milik penerbit Stiletto Book. Sebelumnya telah terbit A Cup Of Tea For Single Mom, A Cup Of Tea For Complicated Relationship dan A Cup Of Tea - Menggapai Mimpi. Masing-masing memiliki inti bahasan yang menarik. Buku ini dikonsep semacam Chicken Soup menceritakan kisah-kisah nyata para penulisnya. Berbeda dari buku motivasi lain, buku motivasi yang diambil dari kisah nyata lebih tepat sasaran dan membuat pembaca tersentuh. Stiletto sendiri merupakan penerbit baru yang berkonsentrasi pada tema-tema dan segmen pembaca perempuan kecuali A Cup Of Tea ini. A Cup Of Tea For Writer bisa dibaca semua gender.

Triani Retno mengawali kisah tentang kegalauan karena bukunya belum juga difilmkan atau terjual jutaan eksemplar tapi dia terus berusaha hingga menulis bisa membuatnya mandiri, menopang keuangan keluarga, dan memiliki profesi baru sebagai editor. Sebagai pembuka, kualitas tulisan Triani Retno jangan diragukan. Kata demi kata mengalir bernas membuat pembaca enggan melewatkan kisah selanjutnya.

Ada pula kisah menyayat hati dari Skylashtar Maryam yang mesti mengobarkan lagi mimpinya menjadi penulis setelah ditentang habis-habisan oleh mantan suami.

"Ia, suamiku-sekarang mantan suami- seharusnya paling mengerti, paling mendukungku menggenapkan mimpi-mimpi. Namun ia memilih menjadi seteru, bukan sekutu. Pertengkaran demi pertengkaran yang seharusnya tak membawa imbas ke mana-mana menjadi pisau di tangannya" (hal 162)

Pengalaman menulis cerpen di ranah surealis terbawa dalam tulisannya pada buku ini. Akhiran huruf yang sama pada tiap kalimat seperti "mengerti" dan "mimpi-mimpi", "seteru bukan sekutu", "imbas ke mana-mana menjadi pisau di tangannya" adalah variasi terhadap seluruh tulisan yang mempunyai sifat bercerita saja. Skylashtar tak mengabaikan latar belakang sebagai seorang seniman dan baginya menulis adalah seni merangkai kata.

Jika anda hobi travelling jangan lewatkan pula tulisan milik Lalu Abdul Fatah. Penulis yang lolos menjadi salah satu dari 60 Petualang Aku Cinta Indonesia dan akhirnya dijuluki sebagai seorang travel writer ini akan membagikan ceritanya tentang penolakan naskah kumpulan cerpennya oleh penerbit. Ternyata penolakan tersebut malah berbuah rezeki hingga sekarang.

Sampul buku A Cup Of Writer cukup atraktif. Terdiri dari 3 warna : hijau, krem, biru serta secangkir teh yang menjadi ciri khas di pojok kiri bawah dan bunga berwarna kuning. Sangat menunjukkan bahwa inilah buku pencerah hari anda dan kamu tak akan menyesal membelinya. Sampai sekarang saya masih bertanya-tanya apa arti 3 warna dalam sampul buku A Cup Of Tea karena semua seri A Cup Of Tea memiliki sampul dengan tiga warna dominan.

20 kisah penghangat hati dalam A Cup Of Tea For Writer ditutup oleh Reda Gaudiamo dengan 10 tips menulisnya yang bisa dijadikan acuan bagaimana agar tulisan kita menjadi favorit pembaca bahkan menembus media nasional. Maka, lengkaplah fungsi buku ini sebagai buku motivasi sekaligus buku panduan menulis. Benang merah dari kedua puluh tulisan adalah sama yaitu menjadi penulis bisa jadi mimpi semua orang, jangan berhenti meraih impian karena kita tak pernah tahu hari esok. Terus membaca, terus menulis itu kuncinya.

Semoga kehadiran buku ini menjawab pertanyaan-pertanyaan penulis pemula yang ragu melanjutkan menulis setelah ditolak media atau penerbit, juga menjadi pembelajaran dan pembangkit semangat bagi calon-calon penulis agar lebih giat berkarya.

"Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa-suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang" (Seno Gumira Ajidarma)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar