Minggu, 07 Oktober 2012

GIRL TALK

Judul : Girl Talk
Penulis : Lala Purwono
Penerbit : Stiletto Book
Cetakan : I, Juni 2012
Tebal : 181 hlm


"60 perempuan. 30 kisah. Yang manakah kisah hidupmu?"

Begitulah kalimat yang terdapat dalam sampul depan buku karya Lala Purwono ini. Identitas bahwa semua tulisan Lala ditujukan untuk perempuan juga diwakili oleh gambar perempuan dikuncir kuda dengan mimik seolah sedang berbisik. Saya mengenal Lala Purwono sekitar tahun 2009, saat blognya masih beralamat www.jeunglala.com. Kemudian dia memindah tulisan ke www.jeunglala.wordpress.com dengan alasan jika dia meninggal, dia tak mau mewariskan biaya pembiayaan blog dot comnya. Jujur. Kesan itu yang saya tangkap ketika membaca pernyataan tersebut. Kemudian saya keranjingan dan berusaha tidak melewatkan setiap tulisan blognya.

Keputusan saya tepat. Tulisan-tulisan Lala sangat Out Of Box, diluar pemikiran wanita pada umumnya. Dia seorang penulis yang kritis, menangkap fenomena sederhana tapi bisa jadi bahan pertimbangan mendalam bagi pembaca atau sebaliknya fenomena rumit bisa jadi sederhana untuk ditelaah sebab gaya bahasanya yang mengalir membuat pembaca sangat menikmati awal hingga akhir tulisan.

"Mereka bicara tentang cinta, juga tentang sakit hati karena cinta yang mengikat terlampau erat. Mereka bicara tentang rahim yang tak pernah menjadi tempat singgah seorang bayi mungil, juga tentang perut membuncit yang bisa berarti akhir dari segalanya. Mereka bicara tentang ketakutan pada ikatan pernikahan, juga ketakutan menghabiskan seumur hidup mereka dalam kesendirian. Mereka bicara tentang rasa egois seorang lelaki, tapi mereka mengakui tak bisa hidup tanpanya." (Back Cover, Girl Talk)

Girl Talk berisi 30 kisah tentang masalah yang dihadapi kaum wanita terutama wanita kelas menengah keatas usia 30-an. Konflik dibangun melalui perbedaan-perbedaan pendapat di antara dua tokoh dalam satu kisah. Setting cerita mayoritas bertempat di kantor atau kafe dengan suasana santai.

 “She’s just afraid that a specific guy will come and say hello, twelve hours before she says I do…” (It’s Always Him, hal. 1)

It's Always Him menceritakan Dinda yang akan menikah namun didatangi oleh masa lalu membuatnya bimbang apakah menikah dengan pria yang ditemuinya sekarang adalah keputusan tepat. Kebanyakan judul di buku ini memang menggunakan bahasa Inggris. Apakah ini kelebihan atau kekurangan? Karena kesan monoton kemudian muncul. Tidak hanya judul tapi dialog beberapa tokoh juga menggunakan bahasa Inggris. Serasa mereka adalah tokoh yang kepintaran dan pergaulannya sama hanya beda masalah saja. Mungkin akan bervariasi jika satu atau dua tokoh menggunakan dialek Surabaya mengingat kebanyakan setting tempat kisah dalam buku ini berada di Surabaya. 

 “He’s a man under the spotlight and he stands too far from my touch… I cannot ever reach him. Never… Dia terlalu sempurna buat aku. Buat perempuan yang bukan siapa-siapa sepertiku…”(A Man Under The Spotlight, hal. 129)

Beda lagi kisah "A Man Under The Spotlight", percakapan dua wanita mengidolakan seorang pria tapi mereka berdua tidak mempunyai keberanian mendekati bahkan mengungkapkan perasaan mereka. Kemudian saya berpikir betapa sempurna wanita memendam perasaan tapi juga membutuhkan orang yang harus tahu kepada siapa perasaannya ditujukan. Tanpa riset mendalam tidak mungkin didapat 30 kisah-kisah menarik "Girl Talk."

Buku ini semacam buku panduan bagi wanita modern menjalani hidup. Bahwa semua masalah ada solusinya dan setegar apapun wanita akan membutuhkan wanita lainnya untuk berbagi. Recommended.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar