Minggu, 08 Desember 2019

Ibu, Stop Pemakaian Antibiotik Berlebihan


Pagi yang cerah di Gedung Pusat Diagnostik Terpadu (GPDT) RSUD Dr. Soetomo. Seorang ibu membawa anaknya yang flu berobat. 

"Dok, saya mau obat paling bagus ya untuk anakku yang cantik ini."
"Oh hanya flu ringan bu. Tidak perlu obat apalagi antibiotik."
"Saya mampu beli kok dok. Kasih saja obat."

Terdengar akrab bukan? Tenang percakapan di atas adalah pertunjukan drama dari dokter spesialis anak RSUD Dr. Soetomo dalam Seminar Pekan Kewaspadaan Antibiotik Dunia 2019 tanggal 30 November 2019.



Sekarang, seluruh negara mengkhawatirkan peningkatan munculnya bakteri resisten. WHO 2013, melaporkan 700.000 kematian akibat komplikasi bakteri resisten pertahun. 

APAKAH ITU BAKTERI RESISTEN? 

Bakteri Resisten adalah bakteri yang akibat perubahan biologis, salah satunya mengalami mutasi sehingga tidak bisa dimatikan oleh antibiotik yang biasa digunakan. Hal tersebut terjadi karena bakteri beradaptasi dengan antibiotik tidak tepat guna. Semakin tidak rasional pemakaian antibiotik maka semakin tinggi risiko munculnya bakteri resisten, multi resisten atau pan resisten. Bahkan ada Super Bugs yaitu bakteri kebal oleh semua jenis antibiotik. Serem!

KAPAN SEBAIKNYA MEMAKAI ANTIBIOTIK? 

Antibiotik sebenarnya hanya digunakan untuk infeksi akibat bakteri. Tidak cocok digunakan untuk infeksi akibat virus. Virus berukuran lebih kecil dibanding bakteri. Bakteri pun ada dua jenis, bakteri yang bisa menginfeksi dan bakteri baik. Dalam tubuh manusia tinggal 90 triliun bakteri, pada umumnya bakteri tersebut disebut bakteri baik atau normal flora. 

Normal flora berguna karena memproduksi komponen vitamin B&K, membantu mencerna makanan dalam usus, stimulasi dan meningkatkan kekebalan tubuh, menghambat perkembangan bakteri jahat.

Oleh karena itu, ketika manusia menggunakan antiobiotik saat terkena infeksi virus sesungguhnya dia sedang mematikan bakteri baik sehingga bakteri jahat yang terlanjur ada di tubuh akan berkembang biak menyebabkan kekebalan tubuh menurun. 

Jenis bakteri yang bisa menyebabkan penyakit antara lain : E. Coli, Staphylcoccus sp, Streptococcus sp, Klebsiella Pneumonia, dll. Sedangkan bakteri baik ada 500-1000 jenis yang terbanyak golongan Lactobacillus sp, Fusobacteria, Actinobacteria, Protebacteria, dll.

MENGAPA BAKTERI RESISTEN HARUS DICEGAH? 

Seperti dijelaskan di atas, pada tahun 2013 WHO melaporkan kematian akibat bakteri resisten sebanyak 700.000 bila tidak diatur pemakaian antibiotik akan ada ancaman tahun 2050 terjadi bencana kematian global sebanyak 10 juta jiwa/tahun. 

Dr. Keiji Fukuda dari WHO pun menyatakan saat ini akibat bakteri resisten, infeksi dan cidera ringan yang seharusnya dapat diobati bisa membunuh siapapun. 

Amerika Serikat dengan populasi 500 juta jiwa terdapat angka kematian akibat bakteri resisten sebanyak 25.000 jiwa/tahun dan menghabiskan dana Rp 281 triliun. Negara-negara di Eropa dengan populasi 300 juta jiwa terdapat kematian akibat bakteri resisten sebanyak 23.000 jiwa/tahuntahun dan menghabiskan dana Rp 23 triliun. 

Sementara Thailand dengan populasi 77 juta jiwa, terdapat kematian akibat bakteri resisten sebanyak 38.000 jiwa/tahun menghabiskan dana Rp 20 triliun rupiah. Di Indonesia sendiri kejadian antimikrobial resisten meningkat dari tahun ke tahun.

DIMANA MEMBELI ANTIBIOTIK DAN BAGAIMANA SEHARUSNYA MENGKONSUMSI ANTIBIOTIK? 

Konsumsi antibiotik harus menggunakan resep dokter dengan dosis dan jangka waktu yang tepat. Jangan gunakan antibiotik berdasarkan rekomendasi orang lain. Selalu konsultasikan penggunaan antibiotik kepada apoteker atau dokter.

Jangan gunakan antibiotik dari resep sisa, antibiotik yang diresepkan harusnya dihabiskan tidak bersisa. Tidak boleh berbagi antibiotik, karena kasus tiap individu bisa berbeda maka baiknya satu individu satu antibiotik. Umumnya antibiotik dikonsumsi 30 menit setelah makanan bertujuan menghindari interaksi obat dengan makanan dan mencegah rusaknya obat karena asam lambung.

APA SAJA PENYAKIT-PENYAKIT YANG TIDAK PERLU PENGGUNAAN ANTIBIOTIK? 

Penyakit yang sering dialami manusia tapi sebenarnya tidak butuh antibiotik : PNEUMONIA, FLU, BATUK, DIARE TANPA DARAH, DEMAM BERDARAH, CACAR AIR, CAMPAK, HEPATITIS, GONDONGAN, TIFOID, LUKA.

Prinsip utama jika sakit adalah konsultasi ke ahlinya. Jika dokter meresepkan antibiotik berlebihan tanyakan ke apoteker apakah aman? Lebih baik jika kita senantiasa menjaga kesehatan.


4 komentar:

  1. Iya. Tidak semua penyakit butuh antibiotik dan kalo udah diresepkan harus dihabiskan ya

    BalasHapus
  2. Selagi bisa istirahat aku lebih baik menghindari obat. Tapi memang harus disiplin dengan pemakaian antibiotik, jangan sembarangan

    BalasHapus
  3. Kunyit katanya bisa berfungsi sebagai amtibiotik ya kalau ga salah..

    BalasHapus
  4. Oh baru tahu kalau nggak boleh berbagi antubiotik mbaa. Menarik infonya dan ini harus disosialisasikan ya

    BalasHapus