Translate

Selasa, 21 Januari 2020

BICARA SOAL PENGELUARAN LATTE FACTOR

Saya masih ingat ilmu yang didapat saat ikut talkshow bersama Dipa Andika, beliau sering menyebut tentang Latte Factor. Saya pikir itu ilmu baru. 

Ternyata saya yang telat tahu. Istilah Latte Factor dipopulerkan oleh David Bach dengan buku berjudul sama. 

Mungkin minggu ini saya berencana mencari bukunya di perpustakaan. Semoga ada dalam bentuk terjemahnya.

Latte Factor adalah pengeluaran-pengeluaran kecil yang sering sehingga jadi banyak. Contohnya

1. Latte Factor karena Biaya Ngopi di Kafe atau Resto Kekinian. 


Jika sekali sebulan bisa dipahami untuk refreshing atau me time. Tapi jika anda pekerja kantor dengan gaji tepat atau lebih sedikit di atas UMR lebih baik bawa bekal ke kantor atau cari makan di warung. 

Porsi makanan dan minuman di tempat makan kekinian didesain cantik sehingga porsinya sering kurang membuat kenyang. Selain itu membawa bekal sendiri otomatis menjaga bumi dari sampah kan? Hehehe

2. Latte Factor karena Biaya Parkir


Saya belajar dari talkshow Dipa Andika bahwa sebelum pergi rencanakan kegiatan kita apa saja sedetail mungkin. Jangan sampai ketika di rumah ingat ada yang ketinggalan dikerjakan jadi balik dan mengeluarkan biaya parkir dan biaya bensin lagi. Kalau berulang, biaya lumayan besar tentu akan keluar dari kantong kita. 

3. Latte Factor karena Biaya Admin 


Untuk pebisnis online pilih bank yang sekiranya banyak orang pakai, supaya ketika transfer ke supplier kita tidak keluar biaya admin berkali-kali karena beda bank. Uang 6500 dikali 10 sudah 65.000.

Bayangkan jika dalam sebulan ada 20 kali transaksi dengan supplier berarti ongkos admin sudah 130.000. Jadi menurut saya, jika serius berbisnis lebih baik memiliki maksimal 2 rekening bank yang banyak dipakai orang. Begitupun ketika kita adalah buyer, cari tau aplikasi-aplikasi yang bisa menekan biaya transfer seperti OVO, Flip, Jenius. 

4. Latte Factor karena Diskon E-commerce


Hayooo siapa yang suka jajan hanya karena sayang liat voucher nganggur. Justru memang itulah tujuan E-commerce kasih voucher, mengalirkan uang. 

Berburu diskon boleh hanya saja sebaiknya kita punya prioritas mana barang yang benar-benar kita butuhkan. Agar tidak mubazir lalu ujungnya penyesalan nggak bisa nabung.

Untuk itu, saya ingin belajar lebih lanjut tentang jenis-jenis investasi tabungan masa depan. Menahan diri dari membeli barang-barang kurang penting. 

Tabungan yang saya tau macamnya bisa berupa menabung logam mulia emas batangan. Saya pernah mencoba cara ini, memang sangat menyimpan nilai uang yang makin menurun tiap tahun.

Kapan-kapan saya buat blogpost tersendiri untuk pengalaman menabung emas ini. Kedua, menabung bisa dengan menyisihkan uang belanja sesuai tanggal dimasukkan dalam botol khusus.

Jangan dibuka sampai akhir bulan, misal hari ini tanggal 1 maka nabung seribu. Jika hari ini tanggal 31 maka menabung 31.000. 

Konsisten menabung dengan cara ini juga cukup menguntungkan bagi ibu rumah tangga. Sebulan ibu bisa menabung Rp 496.000, lumayan banget kan?

Ketiga, menabung lewat arisan. Cara umum yang dipakai para ibu dalam sebuah komunitas. 

Mengumpulkan dana pada satu orang, lalu tiap periode ditentukan siapa yang dapat arisan lewat undian. Sistem ini memerlukan kepercayaan, baiknya pemegang uang merupakan keluarga atau teman dekat yang kita sudah tau latar belakangnya.

Sistem arisan ada pro kontra, karena menimbulkan hutang di masa depan jika telah menarik uang atau menjadi pemenang arisan. Namun, banyak yang suka menabung cara ini karena uang tidak mudah diambil semaunya jika sudah terkumpul.

Keempat, menabung lewat saham atau reksadana. Poin terakhir ini sekarang bisa dilakukan lewat marketplace.

Perhitungan lengkapnya juga sudah disediakan termasuk presentase dan berapa yang didapat di akhir tahun. Ibu cukup mentransfer dana yang ingin ditabung.

Cara menabung mana ingin digunakan tergantung kemampuan ekonomi keluarga. Paling penting membuat keluarga nyaman dan tidak terbebani. 

Ilmu yang dipelajari dalam institut ibu profesional

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Back to Top