Akrab dengan Kereta, Satu Cara Cintai Bumi

Emisi karbon
Sumber : freepik

Belakangan ini keluarga kami terserang batuk yang cukup mengganggu. Penyebabnya ialah saat kemarau, adik diam-diam beli es. Sorenya, dia demam dan berlangsung beberapa hari. Dokter khawatir, adik terkena DBD lalu menyarankan tes darah jika 3-4 hari suhu naik turun.

Batuk itu menular ke kakak, ayahnya, juga saya. Untung, setelah konsumsi obat rutin, kami berangsur sembuh. Melihat kondisi bulan Maret-April memang pergantian cuaca begitu ekstrim. Pagi cerah, siang gerimis. Begitupun sebaliknya, pagi hujan deras kemudian siang berubah terik menyengat. 

Bahkan, di beberapa daerah terjadi fenomena hujan es serta banjir. Hal itu bisa berpengaruh pada penurunan daya tahan tubuh. Teringat pelajaran IPA sekolah dasar, gelas kaca akan pecah saat diisi air panas lalu ganti air dingin tiba-tiba. Maka, sejak sakit kami lebih menjaga kesehatan dengan minum vitamin dan konsumsi cukup air putih. 

Kalau ditelusuri, ada andil tingginya emisi gas karbon terhadap perubahan iklim. Emisi karbon adalah pelepasan karbon ke atmosfer hasil dari pembakaran senyawa mengandung karbon seperti penggunaan kendaraan bermotor, LPG rumah tangga, dan yang tak disadari pemakaian microphone atau sound system. Makin banyak penduduk satu negara, biasanya emisi karbon makin banyak pula. 

Tahun 2020, emisi karbon Indonesia menyumbang 0,5 miliar metrik ton menduduki peringkat 8 secara global. Berkontribusi pada kenaikan temperatur hingga 2 derajat celcius. Pantas saja, bumi tambah panas. 

Adaptasi Manusia Terhadap Perubahan Iklim

Adaptasi diartikan tindakan menyesuaikan diri terhadap lingkungan untuk bertahan hidup. Sebagai negara kepulauan dengan pemukiman yang sebagian besar di pesisir, rakyat dan pemerintah Indonesia sadar dampak dari emisi karbon. Jika tidak dicegah dan suhu terus meningkat, ancaman kenaikan air laut mengintai dan harus siaga terhadap banjir atau badai yang kerap terjadi. 

Angka terbesar emisi karbon sebenarnya datang dari rumah. Pemakaian listrik berlebihan dan sampah rumah tangga jadi pemicu. Saya masih melakukan gerakan 17-22 yang dulu digemborkan pemerintah yaitu penghematan listrik besar-besaran entah itu mematikan lampu yang tak terpakai, melepas charger yang masih menempel di colokan pada jam puncak pemakaian nasional. Di bidang pendidikan ada pula gerakan 18-20, para orang tua mematikan gadget dan televisi untuk mendampingi putra putrinya belajar. Menurut saya, cukup efektif mengurangi konsumsi energi kalau disosialisasikan lagi. 

Zero waste
Sumber : freepik

Sementara persoalan sampah, warga lebih gercep sebagai bentuk cinta #UntukmuBumiku. Muncul gerakan zero waste, mengganti pemakaian plastik sekali pakai yang berujung dibuang dengan bawa sendiri kotak dan tumbler dari rumah baik untuk ke kantor, belanja, atau bepergian. Saya pun sudah melakukannya walau sesekali ada lupa. 

Kehadiran transportasi publik nyaman juga dirindukan sebagai pengurang emisi karbon dari sektor otomotif. Sejauh ini, kereta adalah transportasi publik yang paling dapat diandalkan untuk tugas tersebut. Mau tahu kenapa? 

Bersahabat dengan Kereta, Kurangi Emisi Karbon. 

Saya tinggal di Kabupaten Lamongan yang sebagian besar warganya memutuskan kerja ke Surabaya karena dianggap memiliki UMR lebih besar. Tiap pagi ada ratusan orang mesti diangkut. Bayangkan jika tiap mereka mengendarai motor menuju tempat kerja. Pasti timbul lonjakan emisi.

Itu baru satu tempat, lantas bagaimana kondisi ibukota? Tentu lebih parah lagi.

Saya patut berterimakasih pada PT. Kereta Api yang terus berbenah memperbaiki layanannya. Karyawan-karyawan tersebut berangkat dengan nyaman tanpa menambah polusi. Ada 3 alasan mengapa saya suka bepergian naik kereta. 

1. Emisi Karbon yang Dikeluarkan Lebih Sedikit dibanding Kendaraan Lain. 

Emisi karbon kendaraan

Menurut data yang dikeluarkan pemerintah Inggris. Kereta menempati nomor tiga dari bawah soal emisi yang dihasilkan. Jujur, saya kaget mengetahui data ini karena berpikir kereta akan menghasilkan banyak jejak karbon ternyata malah sangat rendah. 

Di Indonesia, sempat ada yang menghitung pula berapa rupiah yang harus dikeluarkan untuk menanam pohon mangga dari tiap kendaraan supaya dapat mengimbangi emisinya. Hasilnya kereta api lagi-lagi menempati posisi paling murah biaya penanaman pohon hanya Rp12, sementara mobil membutuhkan Rp 99, motor Rp 67, dan bus Rp 22. 

2. Lebih Murah Tarifnya

Jika dibandingkan menuju tempat yang sama, misal Surabaya ke Lamongan naik bus tarifnya Rp15.000 sementara naik kereta ada pilihan tarif mulai Rp5.000. Tapi ini tergantung kelas juga ya.

3. Pembelian Tiket dapat Dilakukan Online

Karena diatur pemerintah, semua jalur dapat dilakukan pembelian secara online termasuk kereta lokal. Sementara bus rata-rata dipegang oleh pihak swasta. Hanya jalur tertentu yang dapat dilakukan pembelian online. Sistem pembelian online kereta api juga dapat mendeteksi lewat nomor KTP apakah calon penumpang sudah vaksin COVID-19 atau belum. Sehingga merasa tenang dan aman. 

Saya yakin kalian punya cara tersendiri untuk ikut serta menjaga bumi dan mengurangi emisi karbon yang dapat memicu perubahan iklim. Berbagi yuk di kolom komentar dan ikutan challenge dari #TeamUpforImpact agar saya ikut terinspirasi.


Tidak ada komentar

Posting Komentar