Kamis, 09 Agustus 2012

Perfume : Obsesi Aroma Perawan

Penulis             :           Patrick Suskind
Penerbit           :           Dastan Books
Cetakan           :           keenam, Agustus 2006
Tebal               :           423 halaman
ISBN               :           979397205x

Patrick Suskind rupanya harus bertanggung jawab terhadap membekasnya Grenouille di kepala orang – orang sehingga novel ini terjual sampai lebih dari 15 juta kopi. Dituturkan dengan amat pintar menjadikan kisah pembunuhan tidak melulu tentang balas dendam dan perebutan harta. Mengambil latar Paris tahun 1800-an, Perfume menggambarkan sedikit penderitaan rakyat saat pemerintahan monarki absolut berkuasa. Penamaan tokoh utama Grenouille, mengingatkan kita pada alat eksekusi yang terkenal waktu revolusi Perancis yaitu Guillotine, semacam alat pancung yang membunuh 40.000 orang termasuk Raja Louis XVI dan istrinya Marie Antoinette. Nama Guillotine diambil dari nama Joseph Ignace Guillotin (1738 – 1814), orang yang pertama kali menyarankan alat ini sebagai alat eksekusi. Mungkin inilah inspirasi Suskind sehingga tahun lahir Grenouille di cerita sama dengan tahun lahir Joseph Ignace Guillotin

Dikisahkan Jean Baptiste Grenouille lahir dalam keadaan tidak menyenangkan, berada di kedai ikan kotor dan bau busuk, sang ibu sama sekali tidak mengharapkan kehadirannya hingga saat keluar dari rahim, ibu berhasrat membunuh bayi Grenouille tetapi gagal kemudian dia dititipkan di rumah Madam Gaillard karena ibunya tervonis hukuman mati mengaborsi lima bayi. Grenouille remaja tumbuh menjadi sosok yang misterius, enggan bergaul dengan orang lain, dan paling penting dia menyadari hidungnya istimewa. Mampu membau daun jatuh lalu menebak asal tanamannya atau membau orang yang berada di ujung jalan sekalipun. Suatu hari, dia mencium aroma susu dan sutra secara bersamaan. Membuatnya mabuk. Ternyata aroma tersebut timbul dari seorang perempuan belum menikah alias perawan. Saking tergila – gila, dia bermaksud “menangkap” aroma tersebut untuk dijadikan wewangian. Berhasilkah Grenouille?

Sebagai novel fiksi thriller, Suskind berhasil membuat pembaca tegang dari awal hingga akhir. Bidang ilmu sejarah yang dipelajari penulis adalah salah satu faktor penunjang kelihaian menggambarkan situasi dan tingkah laku tokoh utama maupun tokoh penunjang di era Revolusi Perancis. Pembangunan karakter digambarkan secara kuat melalui dialog dan deskripsi perlakuan tokoh pada lingkungan sekitar seperti di halaman 46, ada petikan Sejak hari pertama ia datang, kehadirannya sudah membawa atmosfir mencekam. Yang termuda di antara mereka bahkan kerap menangis saat malam. Yang lain bermimpi seperti ada yang hendak mencuri nafas mereka. Deskripsi tersebut membantu kita menyelami karakter Grenouille yang dingin dan kejam. Tepat jika Library Journal menganggap Perfume sebagai koleksi kesusastraan penting.

Perfume telah diangkat ke layar lebar menjadi masterpiece sutradara Tom Tykwer dan diterjemahkan dalam bentuk skenario oleh Andrew Birkin. Sementara Grenouille diperankan Ben Whishaw yang cukup “sakit” memainkan adegan demi adegan. Beberapa bagian di novel yang saya kira sulit dituangkan secara audio visual mampu digarap mendekati sempurna. Keunikan Suskind lainnya adalah menangkap mitos sederhana bahwa orang dengan kemampuan indera keenam hanya akan membawa sial dan kematian. Ini merupakan bumbu cukup lezat bagi kisah Grenouille yang menyeramkan.
Sebagai sebuah karya manusia biasa tentu tak luput dari kekurangan. Suskind terkesan terburu-buru mengeksekusi nasib Grenouille sehingga pembaca akan merasa aneh dengan kisah hidup tokoh yang berliku dan mengejutkan namun memiliki ujung hanya seperti itu. Terlepas dari kekurangan, Perfume adalah alternatif bacaan yang memeras emosi, jenius, dan membuat anda penasaran hingga akhir.

resensi saya yang ini bisa juga anda temukan di : http://pijarpustaka.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar